“Pada akhirya saran dari orang lain hanyalah saran, yang tahu terbaik untuk kita adalah diri kita sendiri. Apapun pilihannya, kita harus menentukan pilihan hidup kita sendiri, bukan orang lain.”- Kata dia.

Berangkat dari percakapan dengan seorang teman, saya merenung.
Bermuhasabah dan mengingat kembali perjalanan selama dua tahun terakhir.
Menyelami kisah dan hikmah dari setiap perjalanan yang saya lalui hingga sampai pada titik ini.

Nyatanya tidak mudah. Setelah beberapa kali mendapat penolakan, menunggu tiga tahun (sepertinya saya memang ahli dalam perkara tunggu-menunggu), saya yang hampir menyerah mendapat sebuah pesan whatsapp berisi bc pendaftaran beasiswa di sebuah universitas swasta.
Untuk beberapa saat saya mengabaikan pesan itu, namun tiba-tiba jantung saya berdebar.
Semangat yang hampir padam sepertinya mendapat bahan bakar dan memberi setitik cahaya. “Harapan itu masih ada.” Batinku dengan senyum mengembang di sana.

Saat itu kebetulan saya sedang tidak berada di Jogja. Saya berada di Tangerang, di tempat kakak laki-laki saya. 
Setelah menyampaikan pesan itu ke kakak-kakak saya, saya segera kembali ke Jogja.
Sejujurnya saya tidak begitu percaya diri untuk mengikuti proses seleksi (lagi), tapi sekecil apa pun peluangnya akan saya coba.

Singkat cerita, setelah mendaftar secara online saya menyerahkan berkas-berkas ke kampus pada hari rabu. Betapa terkagetnya saya karena diminta datang lagi pada hari jum’at untuk mengikuti ujian dan wawancara. Dalam jangka waktu yang tidak sampai sepekan tesebut, saya mengalami kebimbangan dengan jurusan yang saya ambil .
Setelah melalui banyak pertimbangan, di hari saya menjalani ujian dan wawancara, saya mengganti pilihan jurusan yang saya ambil tersebut.
Anehnya, jurusan itu bahkan tidak ada di dalam list cita-cita saya. Labil memang, tapi entah kenapa saya yakin dengan pilihan itu. Dan...

Akhirnya saya dinyatakan lolos seleksi. Alhamdulillah... Be proud of how hard you’re trying, bet.

Penantian selama tiga tahun terbayar sudah.
Pada masa awal perkuliahan saya sedikit kesulitan memahami beberapa mata kuliah.
Bersyukurlah saya karena teman-teman di kelas saya berbaik hati mau meluangkan waktu dan fikirannya untuk membantu saya tanpa pamrih. Meskipun sebenarnya saya merasa canggung karena usia kami terpaut sedikit agak banyak (???). hehe

Di saat merasa canggung dan tidak percaya diri, lagi-lagi teman saya berhasil menghipnotis saya dengan kata-kata mutiaranya.

He said, “Age is just a number, eagerness is more important. Keep fighting, stop thinking about age. You’re still young, focus to your goal.”

“Kenapa kamu gak jadi motivator aja sih. Hhhh” 😪

Saya pun berhasil mengabaikan perbedaan itu.
Saya melakukan segalanya sebaik yang saya bisa sampai pada akhirnya saya mulai mengkhawatirkan masa depan. Merasa salah jurusan, memikirkan tentang pernikahan.
Setelah merenung, saya kembali menemukan alasan kenapa pilihan yang saya ambil dulu adalah yang terbaik menurut saya-semoga terbaik juga menurut-Nya.
Namun, saya belum bisa menghilangkan kekhawatiran perihal pernikahan. Dulu saya bercita-cita menikah muda. Menikah di usia sembilan belas tahun atau paling lambat dua puluh satu tahun.

Saya sepenuhnya sadar bahwa menikah bukan sesuatu yang mudah untuk di lakukan.
Butuh komitmen yang kuat di sana, materi yang tidak sedikit serta ilmu yang matang.
Akan tetapi, bukan itu yang membuat saya khawatir, melainkan restu ibunda yang sepertinya akan sulit diluluhkan. Beliau berharap, saya bisa menyekolahkan adik saya terlebih dulu sebelum akhirnya menikah. Adik saya masih smp dan usia saya sudah dua puluh tiga tahun.
Artinya saya bisa menikah di usia minimal dua puluh tujuh tahun. 😑😣
Dikarenakan saya tempat ibunda bercerita dan berkeluh kesah, saya tahu apa-apa yang beliau khawatirkan, apa-apa yang ingin beliau perjuangkan dan cita-citakan. Semakin banyak tahu, semakin besar pula hati saya tidak ingin membuat beliau bersedih apalagi kecewa. Tapi...

***
Ditambah masih kentalnya pandangan masyarakat pada umumnya yang beranggapan

“Wanita tak perlu berpendidikan tinggi, toh ujung-ujungnya cuma melayani suami.”

Sampailah pada pertanyaan ibunda: ”Kuliah atau nikah?”

Pada akhirnya saya memilih pilihan pertama dengan konsekuensi menjomblo sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.  

Komentar

Postingan Populer