#AprilProduktifDay1: KEKHAWATIRAN~
Beberapa bulan yang lalu, isi kepalaku sempat dipenuhi oleh banyak sekali harapan-harapan yang ingin aku wujudkan. Tentang perkuliahan, kehidupan sosial, dan pekerjaan. Sejujurnya aku tidak percaya diri, karena aku tidak memiliki keahlian apa-apa. Harapan itu aku gantungkan hanya bermodal keinginan kuat untuk terus belajar dan bertanggungjawab atas pilihan yang telah aku putuskan. Sejak awal aku menyadari ini tidak akan mudah. Benar saja, godaan untuk menyerah saja datang bergantian.
Kesalahanku berawal dari ketidaksiapanku menghadapi segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Ketika pertanyaan yang belum sempat terfikirkan, justru datang lebih awal. Sore itu, handphone-ku berdering pertanda ada panggilan telfon yang masuk. Aku lihat dari seseorang yang pernah aku kenal, sebatas nama. Belum pernah dekat, karena entah sejak kapan aku menutup diri dari lawan jenis. Biasanya aku tidak menerima telfon dari teman laki-laki, tapi sore itu aku merasa ada kepentingan yang ingin ia sampaikan.

“Halo, Assalamu’alaikum.” Salamnya disebrang sana.

“Wa’alaikumussalam wr.wb.” Jawabku

“Bagaimana kabarnya?” Ia menanyai kabarku karena sebelumnya kami memang tidak saling berkomunikasi.

“Alhamdulillah, baik. Kamu bagaimana?”

“Saya Alhamdulillah juga baik.”

“Ada perlu apa ya?” Tanyaku.

“Jadi begini, saya ingin datang ke rumah dengan niat baik. Apakah diperbolehkan?”

Mendengar pertanyaan itu, aku terdiam. Kumatikan telfon tanpa menutup salam. Tubuhku memberi reaksi di luar ekspektasi. Bukan bersorai lantas gemetar ketakutan. Ya, aku takut menikah.
Dulu, saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) aku sempat bercita-cita menikah muda. Seiring bertambahnya usia, ternyata pola pikir manusia terus beradaptasi. Ada banyak pengalaman hidup yang aku lihat, aku dengar, dan secara tidak langsung ikut merasakan. Pada akhirnya aku takut memilih seseorang yang tidak aku pahami dengan baik bagaimana akhlaqnya. Bagaimana ia ketika marah, bagaimana cara ia menyelesaikan masalah. Apakah ia pendengar yang baik? Misal ketika aku menyampaikan ketidaksukaanku terhadap sesuatu yang mungkin ia sukai. Memutuskan untuk hidup selamanya bersama seseorang nyatanya tidak mudah. Ada banyak kekhawatiran karena tidak ada yang pasti soal masa depan. Iya, Tuhan-ku bahkan sudah memberikan clue bahwa jodoh adalah cerminan diri, versi terbaik. Akan tetapi, manusia bisa saja melakukan kesalahan kan? Salah memilih misalnya.

Komentar

  1. Mungkin lebih baik kata takut itu kita ubah menjadi "khawatir" :') Barangkali karena kita belum menemukan seseorang yang tepat sehingga rasa khawatir itu ada, bahkan saat menemukan seseorang yang dikiranya sudah tepat pun, rasa khawatir itu akan tetap ada.

    BalasHapus
  2. Wah.. Terima kasih nina atas masukannya. Bisa jadi benar hanya butuh diyakinkan. :D

    BalasHapus
  3. Ditunggu kabar bahagianya kak~

    https://www.instagram.com/p/B8nnLuSHFPo/?utm_source=ig_web_copy_link
    https://www.instagram.com/p/B82c9l5Hoy-/?utm_source=ig_web_copy_link

    Semoga membantu~

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer